Kota Metro – Perantau dari Kota Solo, Provinsi Jawa Tengah sukses meraup omzet hingga puluhan juta rupiah per bulan. Penghasilan yang cukup fantastis itu didapat dari usaha menjual aneka kuliner khas Jawa di Kota Metro, Lampung. Wedang Uwuh menjadi salah satu dagangannya yang paling diminati pembeli.
Triyono namanya. Pria kelahiran Kota Solo berusia 46 tahun, yang kini tinggal menetap di Gang Harapan, Kelurahan Hadimulyo Barat, Kecamatan Metro Pusat, Kota Metro sejak menikah dengan isterinya, Citra, sekitar 20 tahun silam.
Berawal dari himpitan ekonomi yang dialami setelah usaha jual bumbu dapurnya yang bangkrut, Triyono dan Citra, memutar akal dan mencoba kembali memulai berdagang, namun dengan produk dagang yang lain, yakni kuliner khas tanah Jawa.
Bermodalkan tekad dan pengetahuan meracik berbagai jenis rempah menjadi minuman kedaerahan etnis Jawa, Citra yang merupakan puteri asli Kota Metro itu, akhirnya sanggup meyakinkan suaminya untuk konsisten berdagang dan membuka angkringan.
Meski harus berdagang dengan konsep kaki lima, menghampar di atas trotoar di tepian Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Hadimulyo Barat, Kecamatan Metro Pusat, Triyono akhirnya mampu mengembangkan lapak dagang dengan menyewa halaman rumah milik seorang warga, untuk digunakannya sebagai tempat menyusun puluhan kursi bagi pembeli yang hendak bersantai, menikmati aneka minuman dan makanan tradisional.
Triyono mengaku usahanya itu dimulai dari modal sebesar Rp5 juta. Sekarang, omzet yang didapatnya dalam satu malam berdagang bisa tembus sampai Rp 1,5 juta.
“Modal awal dulu sekitar lima jutaan sih. Kalau omzet, rata-rata berkisar satu setengah juta per malam. Alhamdulillah mas,” kata Triyono saat diwawancarai Radar24, Rabu, 22/11/2023, dini hari.
Singkat cerita, dalam tempo 3 tahun Angkringan Triyono menjadi semakin ramai dan dikenal sebagai tempat kongko anak muda di Kota Metro, khususnya bagi mereka yang senang jajan kuliner di jam malam.
Saban harinya, rutinitas Triyono dimulai dari pukul 3 sore, Triyono yang dibantu seorang karyawannya, membawa berbagai perlengkapan untuk mempersiapkan dagangnya yang ia jajakan sampai pukul 3 pagi.
Beraneka bahan makanan setengah jadi, hingga bermacam rempah sebagai bahan baku minuman tradisional, mereka bawa satu per satu dari kediaman Triyono yang berjarak sekitar satu kilometer dari lapak dagangnya itu.
“Aku tinggal di belakang kantor Dukcapil Kota Metro, di Gang Harapan Satu. Dari sesudah nikah memang mulai tinggal di situ,” ujarnya sembari mengaduk-aduk gelas berisi rempah komposisi wedang uwuh pesanan pelanggannya.
Menurut Triyono, racikan minuman wedang uwuh menjadi begitu diminati oleh para pembeli. Seperti misalnya saat wabah virus corona, ramuan berbahan dasar campuran daun cengkih kering, serutan kayu secang kering, cengkih, jahe bakar yang dimemarkan, daun pala dan bahan lainnya itu, dipercaya sebagai penangkal radikal bebas dan bisa meningkatkan imunitas tubuh. Dengan sedikit sentuhan inovasi Triyono yang mencampurkan kapulaga pada sajian wedang uwuh, membuat cita rasanya semakin kaya dan bervariasi.
“Memang wedang uwuh ini yang paling diminati pembeli, apalagi dulu ya, pas musim pandemi Covid-19. Masyarakat itu beranggapan kalau wedang uwuh ini kaya khasiat untuk meningkatkan imunitas. Jadi, rame yang beli,” ungkapnya.
“Dari menjual wedang uwuh ini saja, penjualan ku dulu itu laku keras. Pernah omzet ku sampai tembus satu juta lebih,” sambungnya.
Berbagai menu kuliner tradisional khas Jawa yang dijual Triyono pun dibanderol dengan harga yang cukup terjangkau. Untuk makanan berjenis sate-satean dengan aneka bahan semisal telur burung puyuh, bakso, berutu ayam, kepala ayam, kulit ayam, ceker ayam, usus ayam, sayap ayam, kikil, puyuh, sosis, nugget dihargainya dengan kisaran Rp2500 sampai Rp5 ribu.
Sedangkan untuk minuman, Triyono menjual wedang uwuh, jahe susu, ronde, bandrek, segeran dan aneka minuman sachet yang dibanderol dengan harga berkisar Rp7 ribu sampai Rp10 ribu.
Triyono yakin, bahwa jatuh dan bangun dalam suatu usaha merupakan proses yang memang harus dilalui. Meski terkadang pahit, namun semangat dalam doa dan upaya tak boleh menyurutkan tekad untuk mencapai kesuksesan. (Roni)












Komentar