LAMPUNG UTARA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lampung Utara menggencarkan pelacakan kasus Tuberkulosis (TBC) yang terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Kegiatan yang telah memasuki pekan kedua tersebut menyasar 104 desa/kelurahan di seluruh wilayah Lampung Utara.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Lampung Utara, dr. Dian Mauli, mengatakan pelaksanaan program tersebut telah memasuki pekan kedua. Kegiatan diawali dengan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, terutama di wilayah yang telah ditentukan berdasarkan keberadaan penderita TBC.
“Memang kita kebetulan terakhir melaksanakan, tapi kabupaten dan kota lain juga masih berproses. Ini masih berjalan,” kata dr. Dian Mauli kepada lintaslampung, Kamis, (17/09/2026).
Ia menjelaskan, integrasi tracing TBC dengan CKG merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan capaian indikator penanggulangan TBC di Lampung Utara yang selama ini masih tergolong rendah.
“Dengan adanya program tracing TBC terintegrasi dengan CKG ini, harapannya target-target indikator dari penyakit TBC ini bisa kita capai,” jelasnya.
Pada pelaksanaannya, sambung dia, Dinkes tidak hanya melakukan pelacakan, tetapi juga memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai TBC. Edukasi dinilai penting karena masih terdapat anggapan keliru mengenai penyakit tersebut.
“Banyak masyarakat yang awam, misalnya ada yang bilang TBC itu penyakit keturunan, enggak bisa disembuhkan, bahkan jadi aib, sehingga mereka malu mau berobat,” ungkapnya.
“Ini bukan penyakit keturunan, ini bukan karena guna-guna. Kadang kita bercandain, bukan karena santet. Tapi memang penyakit menular, artinya ini bisa disembuhkan. Ini juga bukan aib,” timpalnya lagi.
Pihaknya berharap setelah mendapatkan edukasi, masyarakat tidak lagi merasa malu untuk memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada TBC.
“Harapannya setelah mereka paham, mereka akan dengan sukarela memeriksakan diri. Tidak perlu malu lagi,” tuturnya.
Selain itu, penanganan TBC di Lampung Utara melibatkan tim siaga TBC yang telah dibentuk di setiap kecamatan. Tim tersebut melibatkan unsur kecamatan, puskesmas, kepala desa, hingga aparatur desa.
“Setiap kecamatan ini sudah ada SK Tim Siaga TBC. Camat, Puskesmas, Kades dan aparatur desa masuk di dalam Tim Siaga TBC,” imbuhnya.
Meski kolaborasi lintas sektor telah berjalan, Ia mengakui hasil yang diperoleh belum sepenuhnya maksimal. Salah satu kendalanya adalah masih sulitnya mengubah pemahaman masyarakat mengenai TBC.
“Kalau dari outputnya memang belum maksimal. Karena cukup sulit juga merubah atau menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat,” tandasnya. (*/Dar)












Komentar