LAMPUNG UTARA – Pelaksanaan proyek revitalisasi di SDN 3 Subik, Kabupaten Lampung Utara, menuai sorotan. Dengan nilai anggaran yang disebut mencapai Rp711.609.942, pekerjaan rehabilitasi empat ruang dalam satu bangunan tersebut dipertanyakan setelah ditemukan sejumlah kondisi di lapangan yang diduga perlu mendapat perhatian serius.
Sorotan terutama menyasar penggunaan material struktur beton, metode pengerjaan sejumlah bagian bangunan, hingga aspek keselamatan pekerja.
Berdasarkan pantauan di lokasi pekan lalu, material besi yang digunakan untuk pekerjaan kolom dan ring balok terlihat berdiameter sekitar 8 milimeter dan 10 milimeter. Material tersebut oleh pekerja disebut sebagai besi “banci”. Namun, apakah ukuran dan jenis besi tersebut telah sesuai dengan spesifikasi teknis pekerjaan, masih memerlukan pemeriksaan serta verifikasi dari tenaga ahli konstruksi.
Selain besi, penggunaan semen merek Jakarta juga menjadi perhatian. Di tengah proyek dengan nilai anggaran ratusan juta rupiah, pemilihan material tersebut dipertanyakan, terutama terkait kesesuaiannya dengan spesifikasi yang tercantum dalam dokumen pekerjaan.
Persoalan lain terlihat pada pekerjaan tiang penyangga teras. Berdasarkan kondisi di lokasi, pekerjaan tersebut diduga tidak diawali dengan pembuatan pondasi sebagaimana mestinya. Bagian siring yang berada tepat di depan pintu ruang kelas justru tampak dibongkar, kemudian area tersebut dimanfaatkan untuk pekerjaan pengecoran dengan menggunakan bekisting berbentuk kotak.
Kondisi itu menimbulkan pertanyaan mengenai metode konstruksi yang diterapkan serta kekuatan struktur penyangga tersebut. Namun, kepastian apakah metode tersebut memenuhi standar teknis tetap membutuhkan pemeriksaan dari tenaga ahli atau konsultan yang berwenang.
Sorotan berikutnya berkaitan dengan pekerjaan peninggian bangunan. Seorang pekerja sebelumnya menyebut bahwa dinding bangunan akan ditinggikan sekitar satu meter dari bangunan lama.
“Dalam rehab ada peninggian gedung, dindingnya naik satu meter. Kalau atapnya nanti yang mengerjakan kawannya Pak Budi,” ujar salah seorang pekerja.
Namun, berdasarkan pengamatan di lokasi, peninggian yang terlihat disebut belum mencapai satu meter dan tampak hanya sekitar panjang lengan orang dewasa. Perbedaan antara keterangan pekerja dan kondisi fisik di lapangan tersebut perlu dikonfirmasi berdasarkan gambar kerja maupun spesifikasi teknis proyek.
Tak hanya soal material dan konstruksi, kondisi lingkungan pekerjaan juga menjadi perhatian. Sisa material bongkaran atap gedung kelas masih terlihat menumpuk di sekitar area pekerjaan dan belum seluruhnya dibersihkan.
Aspek keselamatan kerja pun dipertanyakan. Sejumlah pekerja terlihat mengandalkan peralatan seadanya dan tidak tampak menggunakan alat pelindung diri (APD) secara lengkap. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan kerja apabila tidak segera diperhatikan.
Nilai Ratusan Juta, Pekerjaan Jangan Sekadar Kejar Selesai
Besarnya nilai anggaran membuat kualitas pekerjaan dan kesesuaian penggunaan material menjadi hal yang patut diperiksa secara transparan. Sebab, persoalannya bukan semata-mata apakah bangunan terlihat selesai, tetapi apakah setiap bagian pekerjaan dibangun sesuai spesifikasi, memiliki kekuatan struktur yang memadai, serta dapat menjamin keamanan dan keselamatan pengguna bangunan.
Ketua Pelaksana Kegiatan (P2SP), Budi, membenarkan penggunaan semen merek Jakarta. Menurutnya, penggunaan merek tersebut dilakukan karena keterbatasan stok semen merek lain di toko sekitar lokasi.
“Untuk semen, kenapa kita menggunakan merek Jakarta karena stok Baturaja di toko tidak ada. Itu pun harus menunggu karena keterbatasan stok,” jelasnya.
Saat ditanya mengenai nilai anggaran kegiatan, Budi mengaku tidak mengetahui secara pasti. Ia beralasan tidak memegang RAB (Rencana Anggaran Biaya) dan hanya mengetahui perkiraan nilai proyek berdasarkan papan informasi yang terpasang di lokasi.
“Kalau untuk nilai kegiatan itu kami tidak tahu, tapi kalau di banner itu sekitar Rp700-an juta,” elaknya.
Pernyataan tersebut tentu menimbulkan pertanyaan tersendiri, mengingat Budi disebut menjalankan peran sebagai Ketua Pelaksana Kegiatan sekaligus terlibat dalam pengawasan dan pekerjaan di lapangan.
Menunggu Penjelasan Teknis
Hingga berita ini diturunkan, awak media belum memperoleh keterangan dari tenaga ahli atau konsultan yang dapat memastikan apakah material, metode pengerjaan, ukuran struktur, serta peninggian bangunan tersebut telah sesuai dengan spesifikasi teknis yang ditetapkan dalam proyek.
Konfirmasi dari pihak teknis menjadi penting agar berbagai dugaan yang muncul di lapangan tidak berhenti sebatas persepsi visual, melainkan dapat diuji berdasarkan dokumen perencanaan, RAB, gambar kerja, spesifikasi teknis, serta standar konstruksi yang berlaku.
Sementara itu, Kepala SDN 3 Subik berinisial D, hingga berita ini disusun, belum memberikan keterangan terkait pelaksanaan proyek revitalisasi maupun sejumlah kondisi yang ditemukan di lokasi.
Publik kini menunggu penjelasan dari pihak terkait: apakah seluruh material dan metode pekerjaan telah sesuai spesifikasi, dan apakah anggaran ratusan juta rupiah tersebut benar-benar diwujudkan dalam pekerjaan yang memenuhi standar mutu serta keselamatan? (Kandar)












Komentar